Desa Pasawahan terletak di Kabupaten Kuningan, tepatnya di kawasan lereng Gunung Ciremai.
Udara di desa ini relatif sejuk, airnya melimpah, dan kehidupan warganya masih sangat dekat dengan aktivitas produksi pangan tradisional.
Salah satu yang masih bertahan hingga sekarang adalah pabrik tempe skala rumahan.
Selama menjalani Prisma 3.0, kami tidak hanya melihat hasil akhirnya di pasar, tetapi juga menyaksikan langsung proses pembuatan tempe di pabrik Desa Pasawahan, dari kedelai mentah hingga menjadi tempe yang siap dikonsumsi masyarakat.
Desa Pasawahan dan Lingkungan Alaminya
Letak Desa Pasawahan di lereng Gunung Ciremai memberikan keuntungan tersendiri. Suhu yang cenderung stabil dan ketersediaan air bersih sangat mendukung proses fermentasi tempe. Tidak heran jika tempe dari wilayah ini dikenal segar dan tidak mudah asam.
Lingkungan alam yang masih terjaga juga memengaruhi pola kerja warga. Produksi tempe dilakukan tanpa tergesa-gesa, mengikuti ritme alam dan pengalaman turun-temurun.
Tahap Awal Pembuatan Tempe di Pabrik
Tahap awal produksi tempe dimulai dari pemilihan kedelai yang tepat, dilanjutkan pencucian bersih menggunakan air segar pegunungan, sebagai fondasi utama untuk menghasilkan tempe berkualitas dan layak konsumsi.
- Pemilihan Kedelai
Proses dimulai dari pemilihan kedelai. Produsen di Desa Pasawahan biasanya memilih kedelai yang ukurannya seragam dan tidak rusak.
Mereka sadar bahwa kualitas bahan baku sangat menentukan hasil akhir tempe.
Jika kedelai terlalu tua atau pecah, tempe bisa gagal atau rasanya tidak maksimal.
- Pencucian dengan Air Bersih Pegunungan
Setelah disortir, kedelai dicuci menggunakan air bersih yang berasal dari sumber air sekitar lereng Gunung Ciremai. Proses pencucian dilakukan berulang kali hingga benar-benar bersih dari kotoran.
Air yang jernih ini menjadi salah satu faktor penting yang sering luput diperhatikan, padahal sangat berpengaruh pada aroma tempe.
- Perebusan Kedelai
Kedelai kemudian direbus hingga setengah matang. Proses ini tidak bisa asal cepat. Jika terlalu lama, kedelai akan hancur; jika terlalu singkat, fermentasi tidak berjalan sempurna.
Setelah direbus, kedelai direndam selama semalaman. Pada tahap ini, kedelai mulai mengalami perubahan alami yang membantu ragi bekerja lebih baik nanti.
Di sinilah pengalaman produsen berperan besar, karena mereka tahu kapan kedelai sudah siap diproses lebih lanjut.
Pada tahap ini, kedelai yang telah direndam dikupas kulit arinya, lalu dicampur ragi tempe dengan takaran tepat agar proses fermentasi berjalan optimal dan menghasilkan tempe yang padat serta bercita rasa alami.
- Pengupasan Kulit Kedelai
Kedelai yang sudah direndam kemudian dikupas kulit arinya. Di pabrik Desa Pasawahan, proses ini masih banyak dilakukan secara manual.
Meski terlihat sederhana, cara ini membuat kedelai lebih bersih dan tempe menjadi lebih putih.
- Pemberian Ragi
Setelah ditiriskan, kedelai dicampur dengan ragi tempe. Takaran ragi tidak diukur dengan alat modern, melainkan berdasarkan kebiasaan dan insting produsen. Kesalahan kecil di tahap ini bisa membuat tempe gagal.
- Proses Pembungkusan
Kedelai yang sudah diberi ragi dibungkus menggunakan plastik atau daun pisang. Beberapa produsen masih memilih daun pisang karena aroma alami yang dihasilkan lebih khas.
- Fermentasi 1–2 Hari
Tempe kemudian disimpan di ruangan khusus selama satu hingga dua hari. Suhu udara Desa Pasawahan yang sejuk sangat membantu proses fermentasi berjalan stabil tanpa bantuan alat tambahan.
Dalam waktu tersebut, kedelai akan menyatu dan berubah menjadi tempe yang padat.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Warga Desa
Keberadaan pabrik tempe memberi dampak nyata bagi warga Desa Pasawahan. Usaha ini membuka lapangan kerja dan menjadi sumber penghasilan harian. Namun, tantangan tetap ada, seperti naiknya harga kedelai dan keterbatasan peralatan produksi.
Meski begitu, para pelaku usaha tetap bertahan dengan mengandalkan kualitas dan kepercayaan konsumen.
Baca Juga: Agen Kelapa Muda Kuningan
Penutup
Melihat langsung proses pembuatan tempe selama Prisma 3.0 di Desa Pasawahan memberikan pemahaman bahwa makanan sederhana menyimpan proses panjang dan nilai budaya yang kuat.
Dari lereng Gunung Ciremai, tempe tidak hanya menjadi lauk, tetapi juga simbol ketahanan ekonomi desa.
Jika potensi ini terus didukung dan dikembangkan, tempe Desa Pasawahan bisa menjadi identitas lokal yang membanggakan, bukan hanya bagi Kuningan, tetapi juga bagi generasi muda desa itu sendiri.
