Kegiatan Prisma 3.0 Poltek SCI 2025 merupakan salah satu program akademik yang dirancang untuk menghubungkan dunia pendidikan dengan kondisi nyata di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk memahami situasi sebenarnya, khususnya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Salah satu fokus utama dalam kegiatan ini adalah observasi UMKM rengginang di Desa Cibeureum, Kabupaten Kuningan. Rengginang UMKM dipilih karena memiliki potensi ekonomi yang besar serta menjadi produk khas daerah yang sudah dikenal oleh masyarakat sekitar. Selain itu, usaha ini juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di desa tersebut.
Melalui observasi langsung, mahasiswa Poltek SCI diharapkan mampu memahami proses produksi, sistem pemasaran, serta tantangan yang dihadapi UMKM.
Dengan demikian, kegiatan Prisma 3.0 tidak hanya menjadi kewajiban akademik, tetapi juga pengalaman belajar yang bermakna dan aplikatif.
Gambaran Umum Kegiatan Prisma 3.0 Poltek SCI 2025

Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih rinci, penting untuk memahami terlebih dahulu konsep dan arah dari kegiatan Prisma 3.0. Program ini dirancang sebagai pembelajaran berbasis praktik yang menuntut siswa untuk aktif, kritis, dan mampu beradaptasi dengan kondisi lapangan.
Kegiatan ini menekankan pada proses observasi, analisis, dan kompilasi rekomendasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
Baca juga: Pengamatan pertumbuhan bebek di desa cibereum 2025
Pengertian Prisma 3.0 Poltek SCI
Prisma 3.0 merupakan program pembelajaran berbasis proyek yang diselenggarakan oleh Politeknik SCI. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa melalui pengalaman langsung di lapangan, sehingga siswa mampu memahami teori dengan praktik nyata.
Melalui Prisma 3.0, mahasiswa dilatih untuk mengamati kondisi usaha, memahami permasalahan yang dihadapi pelaku UMKM, serta menyusun solusi yang realistis dan mudah diterapkan.
Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami konsep bisnis secara teori, tetapi juga belajar dari pengalaman nyata di masyarakat.
Tujuan Kegiatan Prisma 3.0 Tahun 2025
Kegiatan Prisma 3.0 Poltek SCI 2025 memiliki beberapa tujuan utama. Pertama, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap kondisi UMKM di daerah. Kedua, program ini menjadi bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.
Selain itu, tujuan lainnya adalah melatih kemampuan observasi dan komunikasi siswa, mendorong kepedulian sosial, serta membangun kerja sama antara institusi pendidikan dan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan manfaat yang seimbang bagi pelajar maupun pelaku UMKM.
Profil UMKM Rengginang di Desa Cibeureum Kabupaten Kuningan

Untuk memahami hasil observasi yang diketahui secara menyeluruh, terlebih dahulu perlu gambaran umum UMKM rengginang di Desa Cibeureum. Desa ini dikenal sebagai salah satu daerah yang masih mempertahankan produksi rengginang secara tradisional.
Sebagian besar UMKM rengginang dikelola oleh keluarga dan telah berjalan selama bertahun-tahun.
Usaha ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat setempat, meskipun masih dikelola dengan cara yang sederhana.
Sejarah dan Perkembangan UMKM Rengginang
UMKM rengginang di Desa Cibeureum bermula dari kebiasaan masyarakat membuat camilan tradisional untuk kebutuhan sendiri. Seiring berjalannya waktu, rengginang mulai diproduksi dalam jumlah lebih besar dan dijual ke pasar sekitar.
Perkembangan ini didukung oleh ketersediaan bahan baku beras ketan yang melimpah serta keterampilan masyarakat dalam mengolah makanan tradisional.
Namun demikian, sebagian besar pelaku UMKM masih menjalankan usaha secara turun temurun tanpa perencanaan bisnis yang matang.
Proses Produksi Rengginang Tradisional
Proses produksi rengginang di Desa Cibeureum masih dilakukan secara manual. Mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga pengeringan, semuanya mengandalkan tenaga manusia dan sinar matahari.
Tahapan produksi meliputi pemilihan beras ketan berkualitas, proses pengukusan, pencetakan, penjemuran, dan pengemasan. Cara tradisional ini menjadi ciri khas produk, namun di sisi lain juga membatasi kapasitas produksi dan efisiensi waktu.
Pelaksanaan Observasi UMKM dalam Kegiatan Prisma 3.0

Dalam kegiatan Prisma 3.0 Poltek SCI 2025, observasi UMKM dilakukan secara langsung dan terstruktur.
Mahasiswa terlibat aktif dalam setiap tahap observasi agar memperoleh data yang akurat dan sesuai dengan kondisi lapangan.
Observasi ini tidak hanya fokus pada aspek produksi, tetapi juga mencakup manajemen usaha dan pemasaran produk.
Metode Observasi yang Digunakan
Metode observasi yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi pengamatan langsung dan wawancara dengan pelaku UMKM.
Mahasiswa mencatat setiap proses produksi, sistem kerja, serta kendala yang dihadapi oleh pelaku usaha.
Selain itu, mahasiswa juga melakukan diskusi untuk menggali informasi terkait pemasaran, pengemasan, dan pengelolaan keuangan sederhana. Metode ini membantu mahasiswa memahami kondisi UMKM secara lebih mendalam.
Interaksi Mahasiswa dengan Pelaku UMKM
Interaksi antara mahasiswa dan pelaku UMKM berlangsung secara komunikatif dan terbuka. Mahasiswa berperan sebagai pendengar sekaligus pembelajar, sementara pelaku UMKM berbagi pengalaman usaha yang telah dijalani selama bertahun-tahun.
Melalui interaksi ini, mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang perjuangan UMKM dalam mempertahankan usaha di tengah keterbatasan modal dan persaingan pasar.
Hasil Observasi UMKM Rengginang Desa Cibeureum

Hasil observasi menunjukkan bahwa UMKM rengginang di Desa Cibeureum memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang. Namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena berbagai keterbatasan.
Temuan ini menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bagi siswa dalam kegiatan Prisma 3.0.
Potensi UMKM Rengginang
Rengginang UMKM memiliki keunggulan pada cita rasa tradisional yang khas dan bahan baku lokal yang berkualitas. Produk ini memiliki peluang besar untuk dipasarkan lebih luas, baik di tingkat regional maupun nasional.
Selain itu, rengginang juga memiliki daya tahan yang cukup lama, sehingga cocok untuk dijadikan oleh-oleh khas daerah Kabupaten Kuningan.
Tantangan yang Dihadapi UMKM
Meski memiliki potensi, rengginang UMKM juga menghadapi berbagai tantangan. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan modal, pengemasan produk yang masih sederhana, serta pemasaran yang belum memanfaatkan teknologi digital.
Selain itu, proses pengeringan yang bergantung pada cuaca juga menjadi kendala utama dalam meningkatkan kapasitas produksi.
Manfaat Kegiatan Prisma 3.0 bagi Mahasiswa dan UMKM

Kegiatan Prisma 3.0 Poltek SCI 2025 memberikan manfaat yang nyata bagi kedua belah pihak. Program ini tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga pada kontribusi sosial.
Manfaat yang dirasakan bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.
Manfaat bagi Mahasiswa Poltek SCI
Bagi siswa, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar langsung yang sangat berharga. Siswa dapat memahami kondisi dunia usaha secara nyata, melatih kemampuan komunikasi, serta meningkatkan kepekaan sosial.
Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi pelajar untuk menghadapi dunia kerja dan dunia usaha di masa depan.
Manfaat bagi UMKM Rengginang
Bagi pelaku UMKM, kehadiran mahasiswa memberikan semangat dan sudut pandang baru. Masukan yang diberikan mahasiswa, terutama terkait pemasaran dan pengemasan, dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan usaha ke depan.
Kolaborasi ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan antara kampus dan masyarakat.
penutup
Kegiatan Prisma 3.0 Poltek SCI 2025 melalui observasi UMKM rengginang di Desa Cibeureum Kabupaten Kuningan menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis praktik memiliki dampak yang sangat positif.
Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman dan nilai-nilai sosial yang penting.
UMKM rengginang sebagai usaha lokal memiliki potensi besar untuk berkembang jika didukung dengan strategi yang tepat dan pendampingan berkelanjutan.
Melalui kegiatan seperti Prisma 3.0, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara dunia pendidikan dan masyarakat, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.